Sering kali perusahaan menyusun sistem manajemen secara partial, bagian mutu menyusun sistem manajemen mutu (ISO 9001), bagian K3L (Kesehatan-Keselamatan kerja dan Lingkungan) menyusun sistem manajemen K3L, sedangkan pihak manajemen yang memiliki tugas untuk memajukan bisnis, menyusun sistem yang terkait dengan bisnis. Kalaupun sistem disusun terintegrasi, seringkali integrasi hanya dilakukan antara mutu dan K3L dan hanya mengacu pada persyaratan ISO 9001, ISO 14001 maupun OHSAS 18001. Integrasi sistem jarang mempertimbang- kan faktor bisnis pada saat pengembangan sistem. Karena sistem Mutu & K3L tidak atau kurang mempertimbangkan faktor bisnis (tidak terkait langsung dengan bisnis perusahaan), akibatnya sistemsering kali menjadi kurang diminati oleh Manajemen yang lebih menyukai hal-hal yang berbau bisnis. Bahkan tidak jarang, sistem dirasakan sebagai hambatan dalam menjalankan bisnis, dianggap sebagai biaya tambahan, membuat proses menjadi tidak flexible, dll.
Untuk mengatasi kesenjangan tersebut (kesenjangan antara tuntutan persyaratan mutu vs K3L vs bisnis), perusahaan perlu menyusun suatu sistem manajemen yang terintegrasi, sistem yang tidak hanya mementingkan mutu namun juga memikirkan K3L dan bisnis perusahaan, menjadi suatu sistem yang saling mendukung satu sama lain. Sistem yang terintegrasi secara menyeluruh akan mampu menciptakan sinergi yang baik antara sistem bisnis-mutu-K3L dan sistem lainnya yang akan diterapkan oleh perusahaan. Sistem integrasi Bisnis-Mutu-K3L disusun berdasarkan natural proses bisnis yang ada diperusahaan (bukan berdasarkan persyaratan ISO 9001, ISO 14001, OHSAS 18001), yang kemudian direview secara menyeluruh, mempertimbangkan faktor resiko Bisnis-Mutu-K3L.
Outline training
• Konsep integrasi, memadu-kan unsur bisnis-mutu-K3L
• Pemetaan proses bisnis terintegrasi
• Penetapan resiko bisnis pada tiap proses
• Penyusunan detil proses dengan mempertimbangkan faktor resiko bisnis-mutu-K3L
• Sistem manajemen review terintegrasi
• Sistem corrective action terintegrasi